1. Jatuh Cinta
Mungkin ungkapan ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, semua orang pasti berpotensi jatuh cinta kepada lawan jenisnya.seseorang yang kelihatan pendiam, tertutup, tiba-tiba curhat bahwa kalau ia sedang jatuh cinta kepada seorang wanita yang menjadi teman kerjanya. Seorang wanita yang teduh wajahnya, baik budi pekertinya, bisa bertekuk lutut mengaku mencintai ustaznya, meskipun ustaznya sudah melarangnya untuk jatuh cinta.
Seorang penguasa kaya mengaku tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada karyawatinya. Seorang ibu rumah tangga beranak tiga dan bersuami, menangis terisak karena tidak dapat menahan rasa cintanya terhadap bujang ganteng yang masih tetangganya. Dan seorang guru ngaji dengan senang hati menikahi muridnya yang seorang janda, karena mereka saling cinta.
Siapa pun itu orangnya, profesi seperti apa dan berlatar belakang bagaimana, semua berpotensi terkena cinta.
Ada sebuah kisah yang cukup unik dari seorang ibu berusia 65 tahun, ia bercerita selama tiga bulan belakangan ini ia merasa sangat tersiksa, karena tidak bisa melepaskan ingatan seorang pria. Begitu kangennya ingin berjumpa, ia kerap meneteskan air mata. Ternyata, pria itu adalah cinta pertamanya ketika ia masih bersekolah di SMA.
tiga bulan lalu saya bertemu dia di reuni siswa angkatan 1955-1957. Terus terang begitu ketemu dia hati saya tiba-tiba berdebar dan tidak berani menatap wajahnya. Rupanya dia juga memperhatikan saya, dan segera menemui saya, mengajak saya bersalaman. Kami bertukar alamat, dan tanpa disangka beberapa hari setelah reuni dia menghubungi saya melalui telepon, kami saling bertukar cerita tentang segala hal yang dialami selama hampir 50 tahun tidak bertemu.
Saya heran sendiri, kenapa bisa begini? Suami saya baik, keluarga saya hidup cukup, punya dua anak, semuanya sudah menikah dan memberi tiga cucu. Apakah saya orang yang kurang bersyukur atau psikopat?
Pada awalnya saya bahagia dan selalu menunggu dering telepon dari dia, tapi lama-lama saya kasihan melihat suami saya, dia suami yang baik. Kanapa saya harus abaikan suami saya untuk sekadar menjalin hubungan yang tidak jelas tujuannya dengan eks pacar di SMA, padahal saya sudah setua ini, punya tiga cucu, hidup damai dalam keluarga, dan eks pacar juga sudah kakek-kakek, punya dua cucu pula.
Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini dengan cara tegas. Namun, apa jadinya? ternyata saya tidak menyangka, saya merasa kelimpungan sendiri dan murung hampir sepanjang hari sehingga timbul pertanyaan dalam diri, apakah saya psikopat?
Inilah cinta, ia datang tidak mengenal waktu dan usia. Orang yang kita anggap se-salih apapun, berbaju koko, berpeci, berjenggot, selalu salat jamaah di masjid, tidaklah bebas dari peluang mencintai wanita.karena mereka adalah manusia yang memiliki fitrah menyenangi wanita, se-salihah apapun dia tetap saja terbuka mencintai lelaki.
Sebuah penelitian oleh Universitas London membuktikan ketika sedang jatuh cinta, bagian otak yang mengontrol pikiran-pikiran kritis agak terganggu. Aktivitas yang menimbulkan emosi-emosi negatif pun menjadi berkurang.
Tidak hanya itu saja, terjadi peningkatan aktivitas di bagian otak yang meresponreward atau hal-hal baik. Sedangkan bagian otak yang biasa membuat penilaian-penilaian negatif mengalami penurunan aktivitas.
Para responden ini seakan dibutakan oleh cinta mereka, sehingga penilaian tentang pasangan mereka tak seobyektif biasanya. Penilaian terhadap orang yang dicinta lebih cenderung ke penilaian yang bersifat positif. Sedangkan hal-hal negative atau kesalahan pasangan kerap terlewatkan oleh mereka.
Itulah cinta, siapa saja dapat berpotensi terserang virus yang bernama cinta ini. Lalu bagaimana pandangan islam tentang jatuh cinta dan pacaran?
2. Pandangan Islam tentang Jatuh Cinta dan Pacaran
2.1. Bagaimana Islam memandang jatuh Ccnta
Islam memandang cinta sebagai sesuatu yang biasa dan sederhana. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak melarang seseorang untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullah menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan, seperti dalam hadisnya. “apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaknya dia memberi tahu bahwa dia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).
Seorang muslim dan muslimah tidak dilarang untuk saling mencintai. Mereka juga tidak dilarang untuk jatuh cinta. Hanya saja, Islam menyediakan penyaluran untuk itu melalui lembaga pernikahan.
2.2. Cinta itu alami kok
Sebenarnya apa yang membuat kita memiliki cinta? Apa yang menggerakan hati kita untuk kencintai dan di cintai? Ada beberapa poin yang akan di bahas di sini, yang mungkin dapat sedikit menjawab pertanyaan itu.
Pertama karena Allah memberikan fitrah kepada manusia untuk mencintai keindahan, sehingga kita mudah kagum dengan keindahan dan kecantikan yang Nampak. Allah memang menciptakan keindahan, karena Allah itu indah dan mencintai keindahan.
Kedua, karena manusia cenderung lemah dan tak berdaya. Oleh karena itu, mereka akan memcari seseorang atau sesuatu yang dapat memberikan kekuatan dan keperkasaan. Karena jika dilihat dari sudut pandang yang positif, cinta dapat memberi kekuatan tersendiri untuk orang yang sedang dimabuk asmara.
Dan yang ketiga, karena sifat manusia cenderung membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga, dari rasa membutuhkan itu, timbul rasa saying untuk tidak menyakiti. Karena dia atau mereka adalah orang yang kita butuhkan untuk mengisi kehidupan kita.
Dari dua sudut pandang Islam dan psikologi, menjadi penguat argument bahwa mencintai itu wajar. Saat deg-degan melihat akhwat atau ikhwan yang kita cinta pun juga merupakan hal yang wajar. Bingung saat menghadapi sesi ijab qabul pun juga wajar. Loveadalah urusan yang biasa saja dan bukan sesuatu yang luar biasa. Ketika seseorang lelaki menyatakan cinta kepada kepada seorang wanita adalah hal yang wajar, karenanya keduanya memiliki potensi itu. Lelaki suka pada wanita, demikian juga wanita suka pada lelaki.
2.3. Berarti boleh dong jatuh cinta?
Boleh saja kok, kenapa tidak. Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta seorang wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi, yang bersumber dari fitrah yang diciptakan oleh Allah SWT di dalam jiwa manusia. Yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya, ketika sudah telah mencapai pikiran dan fisiknya. Seperti dalam firman Allah yang artinya adalah sebagai berikut:
“dan diantara tanda-tanta kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Cinta itu juga bukan sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesuciannya tergantung dari bingkainya. Maksudnya bagaimana kita merealisasikan cinta itu, apakah sesuai dengan syariat islam atau justru sebaliknya. Cinta juga bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja, karena ketertarikan secara fisik saja bukanlah cinta yang sebenrnya, tetapi hanyalah permulaan saja dan belum mencapai puncaknya.
Islam adalah agama yang fitrah, karena itulah islam tidak membelenggu perasaan manusia. Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seseorang. Akan tetapi, islam mengajarkan kepada manusia agar perasaan itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.
Tetapi, walaupun islam tidak melarang kita untuk mencintai seseorang, tetap saja jika kita berlebihan mencintai seseorang itu dilarang. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu dilarang.
2.4. Lalu bagaimana pandangan islam dengan pacaran?
Islam tidak pernah melarang jika seseorang jatuh cinta, karena mencintai itu sudah menjadi fitrah manusia yang diberikan oleh Allah. Asalkan dalam kadar yang pas, tidak berlebih. Lantas bagaimana pandangan islam tentang pacaran?
Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kaula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksualdalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual dalam berpacaran diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Hal mudharat lainnya, orang berpacaran cenderung mengenang kekasihnya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?
Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !
Seringkali ketika sedang berpacaran banyak aktivitas lain yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampai-sampai saat salat pun sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat sekali dengan zina. Jadi, kesimpulannya pacaran itu tidak boleh.
Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Tidak lupa anak dari kecil harus di biasakan menerima pengetahuan agama, sehingga setelah dewasa ia akan dapat memilah mana yang baik dan dibolehkan dan mana yang tidak baik dan tentu saja yang dilarang. Dan bagi orang tua yang baik, jika anaknya kiranya sudah saatnya untuk menikah dan sudah mempunyai kesiapan segera saja nikahkan. Atau jika belum mempunyai calon, orang tua dapat membantu untuk mencarikan calon yang tepat.
3. Akibat Pacaran Sebelum Menikah
Disebuah taman kota metropolitan, terlihat beberapa petugas kesehatan begitu sibuk memberikan pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah rel kereta api di kota tersebut. Naas bagi pasangan dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis dan memilukan. Keduanya mekad bunuh diri dengan menutup rel kereta api. Mereka mengikat diri dir el tersebut. Akibatnya, mereka meninggal dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman dengan kondisi tubuh hancur terlindas kereta api. Aparat berwenang bahkan kesulitan saat memisahkan kedua jasad itu.
Di dalam rel kereta tersebut, ditemukan selembar kertas yang sudah mereka tanda tangani. “Tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami sehidup semati.” Itulah tulisan yang tertera di kertas itu. Di bagian akhir surat tertulis bahwa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta sejati yang suci ini, karena orang tua mereka tidak merestui hubungan cinta mereka. Astagfirullah hal azim!
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya, yang diinget cuma si dia, ingin selalu berdua, saat makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi feeling in love itu rela mengorbankan apa saja demi cinta, rela melakukan apa saja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampai akhirnya, pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena ingin membuktikan cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak, dukun pun ikut bertindak.
Contoh di atas merupakan salah satu akibat yang sering sekali di alami anak muda sekarang ini. Berbagia macam alasannya kenapa ini bisa terjadi, mungkin karena masih masa-masa pacaran yang masih identik dengan main-main dan senang-senang, karena memang seperti itu dunia remaja. Inginnya senang-senang terus, emosi dan egoisnya masih tinggi, sehingga ketika mengambil keputusan bukan akal yang di kedepankan, melainkan keegoisan. Atau juga mungkin pengawasan orang tua yang kurang, terlalu membebaskan anak-anaknya, membiarkan anak-anaknya pulang larut malam, atau mungkin bahkan cuex anaknya tidak pulang semalam dua malam. Karena perhatian orang tua sangatlah dibutuhkan oleh anak-anaknya, karena jika seorang anak tidak merasakan kehangatan keluarga, mereka akan cenderung mencari kehangatan di luar. Selain perhatian, pengajaran orang tua tentang moral-moral agama juga sangat penting, agar anak mempunyai bekal dan pegangan sebelum melakukan sesuatu yang mungkin di larang.
Mereka atau mungkin kita orang dewasa juga terkadang sering dibutakan oleh yang namanya cinta. Sampai-sampai selalu bergantung kepada pasangan dalam berbagai hal, mulai dari meminta pendapat, mengambil keputusan, sampai dengan memilih warna pakaian. Dan yang parahnya lagi, karena saking cintanya kepada kekasih rela memberikan apa pun, bagi wanita mungkin keperawanannya. Salahnya lagi kalau menganggap sex adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta, dan alat yang di jadikan untuk mengendalikan kekasihnya. Tidak jarang juga kita atau mereka yang seperti itu bisa saja kehilangan hal terpenting dalam hidupnya, misalkan pekerjaan atau bahkan keluarga inti demi mempertahankan hubungan dengan kekasih yang amat dicintainya dan tentu saja cinta mereka. Dan masih banyak hal-hal lain yang dapat kita temukan yang mungkin tidak jauh dari kita.
4. Pacaran yang Sesuai dengan Syari’at Islam
Apakah benar dalam islam boleh pacaran? Allah swt menjadikan bahwa kaum laki-laki membutuhkan keberadaan kaum wanita didalam kehidupannya dan memberikan didalam diri kaum laki-laki kecenderungan kepada kaum wanita begitu pula sebaliknya.
Namun islam tidaklah melepaskan kecenderungan, perasaan suka kepada lawan jenisnya dan cara berhubungan diantara mereka tidak boleh begitu saja sekehendak mereka. Islam memberikan batasan dalam berhubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya demi mencegah terjadinya kemudharatan diantara mereka.
Islam tidak membolehkan menumpahkan perasaan suka diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya atau sebaliknya dengan cara berpacaran dikarenakan hal itu memberikan peluang kepada setan untuk membisikkan kalimat-kalimat kotornya kedalam diri mereka yang kemudian bisa membuka pintu-pintu perzinahan. Sesuai dengan firman Allah swt : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32)
Pintu-pintu zina yang tidak jarang muncul dari perbuatan ini adalah memandang lawan jenis yang bukan mahramnya dan tidak jarang disertai dengan syahwat diantara mereka berdua, saling bersentuhan kulit, bahkan tidak jarang berakhir dengan perzinahan.
Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan Qadha (ketentuan) Allah, dimana manusia tidak mempunyai andil menentukan sama sekali, manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an ya artinya:"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Dalam islam sebenarnya tidak dikenal istilah pacaran sebelum menikah. Namun islam menyediakan sebuah proses penjajakan menuju pernikahan melalui proses yang disebut ta’aruf. Ta’aruf biasanya diawali dengan nadhar. Yaitu melihat calon suami atau calon istri yang akan dikenalkan. Bila dalam proses melihat atau nadhar ini ada ketertarikan, maka akan dilanjutkan dengan penjajakan ta’aruf, yaitu berbincang-bincang menyamakan persepsi dan menambah referensi calon pasangan. Tapi, pertanyaannya dapatkah cinta muncul saat ta’aruf yang begitu ingkat? Jawabannya ternyata dengan hanya memandang, sudah dapat membuat seseorang jatuh cinta. Selanjutnya tinggal memupuk benih cinta ini agar tumbuh subur dan menghasilkan buah-buahan yang manis.
Mungkin sebagian dari kita tidak setuju dengan proses ta’aruf ini, karena dinilai terlalu singkat mengenal calon yang akan menjadi pasangan hidup kita. Tapi, sudah banyak yang mencobanya dan kebanyakan dari mereka merasakan kebahagiaan.
Jadi, sepertinya kita tidak perlu menguji kedalaman cinta atau menilai kecocokan dengan merelakan pacaran bertahun-tahun. Karena mengenal seseorang dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat. Tentu saja bukan dalam hitungan hari, boleh jadi dalam hitungan bulan. Untuk menilai kecocokan juga kita bisa saja menilainya pada saat ta’aruf, apakah kita cocok atau tidak dengan si dia. Jawaban-jawaban yang diberikan atas pertanyaan yang kita ajukan sudah cukup menjadi bahan pertimbangan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Menghadirkan cinta di awal pernikahan juga sangatlah memungkinkan. Kita bisa berpegang pada apa yang kita sebut dengan cinta pada pandangan pertama. Bila pada saat melihat wajah si dia ada sesuatu yang menggerakan hati untuk menikahinya, maka itu sudah cukup menjadi bekal awal untuk melakukan perjalanan cinta selanjutnya. Dengan begitu, berarti kita sudah mendapatkan benihnya, tinggal disemai dan dipupuk agar tumbuh subur di hati kita.
Setelah itu untuk mengenalnya lebih dalam, bisa dilakukan dengan proses berbincang-bincang yang ditemani oleh orang ketiga. Dalam proses berbincang-bincang atau ta’aruf, kita dapat menanyakan visi hidup berumah tangga, prioritas hidup yang di rencanakan, dan seberapa matang ia mengelola konflik dikemudian hari. Selain itu keadaan keluarga juga cukup penting, harapan dan prinsip hidup, hal yang disukai dan yang tidak disukai, dan yang paling penting adalah ketakwaan calon pasangan. Itu semua perlu diungkapkan dalam proses ta’aruf, agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
5. Solusi Agar Terhindar dari Hal-Hal yang tidak Diinginkan
Gairah boleh saja ada saat kita masih menjadi seorang bujangan. Tapi, gairah itu harus di tahan dengan mekanisme puasa yang dianjurkan. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin mas’ud yang artinya: “"Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu." (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Selain dengan puasa, Islam juga mengajarkan kita agar mau menundukan pandangan, supaya gairah dalam diri kita tidak meronta-ronta, dan mau tunduk kepada tuannya. Karena jujur saja, bila mata sudah melihat aurat terbuka, maka otak tak bisa lagi berkata-kata selain bisikan syaitan yang semakin membahana, ujar salah seorang laki-laki.
Untuk itu, tidak hanya pandangan kita yang harus di jaga, khusus untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup auratnya agar tidak merangsang para lelaki. Dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (QS. An Nuur : 31).
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan saat virus cinta menyerang:
5.1. Pendam jika belum siap
Bila memang dirasa belum siap untuk menyemai cinta dalam bingkai pernikahan, maka sebaiknya cinta dipendam dan tidak dilanjutkan. Tetap saja pilihannya menunda cinta, dan hanya dipendam saja. Jika nanti memang jodoh, yakinlah kita akan dipertemukan kembali dengan kekasih hati. Jadi, kenapa harus mendahulukan yang haram bila memang nanti akan mendapatkan yang halal?
Adapun tentang bagaimana cara memendamnya, kembali kepada pilihan kita masing-masing. Atau bisa menggunakan beberapa trik sederhana untuk memendam cinta yang bergejolak di dada.
- Cobalah untuk menghindariketemu dengan sosok yang kita cinta
Cara ini terbukti cukup efektif untuk memendam rasa itu. Dengan mengurangi frekuensi ketemu, maka hati kita tidak akan disibukan oleh bayang-bayang wajahnya. Awalnya memang terasa menyesakan, karena hal ini bukan pilihan yang gampang. Berharap menghilangkan bayangan wajahnya, perasaan kangen malah menjalar di sekujur hati. Akhirnya, mengacaukan konsentrasi dan perhatian. Tapi itu semua butuh waktu, dan berharaplah kepada Allah insya Allah semuanya akan dimudahkan.
- Menyibukan diri atau jadilah sok sibuk
Tidak mengapa dikatakan sok sibuk untuk sementara waktu, demi menghilangkan bayangannya. Karena jika tidak demikian, justru hati kita akan disibukan olehnya. Pilihlah kegiatan yang berdasarkan minat dan ketertarikan kita. Bila kita sudah merasa larut dan menikmatinya, bayangan si dia lambat laun akan tergantikan. Tidak ada jalan instant, semua itu butuh proses.
- Hapus memori dengan menyisihkan pemberiannya
Cara ini mungkin lebih sulit. Bila kita mampu, tapi jika memang dirasa belum mampu, kita bisa memilih mana yang lebih berkesan, maka itulah yang kita buang. Hal ini sangat membantu kita untuk menghilangkan bayangannya. Namun, tidak banyak yang berani, atau mau melakukan ini, karena ini memang pilihan yang sulit.
- Pindah ke kota lain
Ini lebih sulit lagi. Karena pilihan ini tidak hanya menyerap energi yang cukup besar, tapi juga biaya yang mahal. Pindah keluar kota memang pilihan yang paling berat. Tapi dengan berpisahnya kita secara fisik dan tempat tinggal, akan membantu kita melupakan dirinya. Sehingga dengan pilihan ini, maka pilihan pertama, kedua, dan ketiga bisa lebih mudah kita untuk menjalankannya.
5.2. Jika sudah siap
Kondisinya akan berbeda, jika orang yang jatuh cinta ini sudah siap untuk menikah. Jika usia sudah matang, fisik dan mental pun sudah siap, maka jatuh cina harus segera dilanjutkan. Karena ini adalah moment yang pas, saat kita butuh cinta, maka cinta sudah menghampiri kita.
Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan untuk tahapan selanjutnya adalah:
- Nyatakan bila berani
Kumpulkan keberanian dalam diri kita untuk menyatakan rasa itu kepadanya. Carilah cara yang paling elegan untuk melakukan statement of love ini. Jadilah sosok mukmin yang kreatif dan romantis untuk urusan ini. Dan bila kita seorang laki-laki, ada baiknya kita bertindak jantan dan tidak sembunyi-sembunyi ketakutan. Temuilah dia, dan jadilah pejuang cinta kita.
- Melalui pihak ketiga
Bila kita adalah seorang wanita, ada baiknya menyatakannya dengan cara bantuan orang ketiga, untuk menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada laki-laki yang kita incar. Dengan begitu, pesan tersampaikan dengan baik tanpa harus menerima resiko ditolak ataupun diterima.
- Sebaiknya tidak via SMS
Ada sebuah kesan yang tidak baik bila pernyataan cinta ini disampaikan melalui pasan singkat atau SMS. Selain kesannya main-main dan tidak serius, hal ini terasa tidak jantan. Pernyataan cinta via SMS ini sebaiknya tidak dilakukan oleh ikhwan ataupun oleh akhwat. Bukan karena apa-apa, tapi lebih kepada aspek ketidakseriusan yang terkesan dalam metode ini.
5.3. Pernkahan adalah anti depresi
Pernikahan ternyata bukan hanya sebuah awal menjalani hidup baru bersama pasangan, namun ternyata bisa menjadi antidepresi alami yang terbukti manjur mengubah kesehatan mental seseorang.
Dalam penelitian yang dilakukan beberapa tahun lalu, menyebutkan pernikahan dalam jangka panjang dan hubungan sosial yang berkualitas bahkan bisa mencegah risiko penyakit jantung.
Para ilmuan dari Ohio State University, Amerika. Meneliti catatan medis pada lebih dari 3 ribu individudari Natinal Survey of Families and Households, yang diambil dari dua kali sesi wawancara warga Amerika, yakni pada saat mereka single dan saat mereka menikah.
Dari hasil wawancara dan tes medis bisa ditarik kesimpulan bahwa saat mereka masih single mereka mengaku sering mengeluh, gampang moody dan cepat tertekan, namun setelah mereka menikah, lebih dari separuh responden menyatakan banyak menemukan kegembiraan, dan kestabilan emosi.
Jika ada surga di dunia, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Pernikahan yang bahagia itu didasari oleh pernikahan yang barokah untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, yang di dalamnya ada keindahan dan ketentraman hidup serta ladang amal shalih.
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Ada tiga golongan manusia yang Allah berhak menolong mereka, yaitu seorang pejuang di jalan Allah. Seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka. Dan seseorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (HR. Ahmad, An-Nasa’I, dan At-Tirmidzi)
Maha suci Allah yang telah menciptakan dua jenis dengan sebaik-baik kejadian dan saling memiliki kelebihan. Penciptaannya adalah agar saling membina hubungan dengan jalinan yang harmonis.